Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Replika Eiffel Bambu di Tasikmalaya Pertama di Dunia | Info Tasikmalaya


Reflika Eiffel di Tasikmalaya yang didirikan pada tahun 1898 merupakan reflika Eiffel yang pertama yang ada di dunia.

Pembuatan menara Eiffel yang tersusun dari bahan bambu dibuat untuk menghormati penobatan Ratu Wilhelmina pada tahun 1898 dan didesain serta dilaksanakan oleh pengawas Air AH van Bebber.

Menara Eiffel Paris sendiri yang dibuat oleh Gustave Eiffel pada tahun 1889 terbuat dari kontruksi besi menjulang setinggi 320 meter.  

Menara ini hingga saat ini menjadi inspirasi beberapa orang untuk meniru replikanya baik dalam wujud model, miniatur, souvenir dan replika menara. Tercatat di Tianducheng, Sanghai Tiongkok terdapat replika menara Eiffel setinggi 108 meter.

Tasikmalaya merupakan kota pertama di dunia yang menciptakan replika Eiffel dari bahan non metal, kira-kira 2 tahun setelah berdiri menara Eiffel di Paris, Prancis. Ketinggian reflika menara Eiffel di Tasikmalaya diperkirakan setinggi 40-50 meter.


Tidak jelas catatan sejarah dimana letak bangunan reflika menara Eiffel tersebut kemungkinan disekitar alun-alun depan pendopo. Selain di Tasikmalaya menara Eiffel bambu pernah didirikan di kota Ersmusburg Roterdam Negeri Belanda pada April 2008 dengan ketinggian hanya 15 meter.





Mengenal Kerajaan 'Sela Cau' di Tasikmalaya | Wisata Budaya

Terlepas benar dan tidaknya kerajaan Sela Cau ini, berikut penelusuran tentang sejarah keberadaan Kerajaan Sela Cau yang berhasil dirangkum dari petikan wawancara dengan Rohidin (Sultan Patra Kusumah VIII).

sela cau tasikmalaya

Menurutnya, salah satu pangeran dari Mataram yang dikenal dengan nama ”Embah Gulung Sakti” diutus ke Baghdad untuk berguru kepada “Syekh Ahmad Hirowwi” yang mempunyai anak laki-laki yang sama-sama menimba ilmu dengan utusan dari Mataram tersebut. 

Di pesantren yang dipimpinnya, Syekh Ahmad Hirowwi mendengar kabar bahwa tanah Jawa adalah Pudatagama Hindu akan tetapi disisi lain Syekh Ahmad Hirowwi mendengar kabar lagi dari tanah jawa bahwa di tanah Jawa banyak pedagang-pedagang keturunan Arab yang berdagang di tanah Jawa yang menyebarluaskan agama Islam. Syekh Ahmad Hirowwi merasa bersyukur ketika “Syekh Datul Kahpi” menetap di Jawa yang nama aslinya “Syek Idlofi Mahdi” tepatnya pada taun 1420 M.

Ternyata Syekh Idlofi Mahdi, masih keturunan Baghdad juga, termasuk kerabat beliau yang memilih menetap di tanah Jawa tepatnya di Kampung Celanang Gunung Jati dibawah kekuasaan Padjadjaran. Yang sekarang ini menjadi kota Cirebon. 

Disisi bangga dan rasa syukur, Syekh Ahmad Hirowwi mengutus muridnya yang bernama Embah Gulung Sakti untuk menimba ilmu ke kuala dan berpesan “setelah selesai berguru agar langsung ke tanah Jawa untuk membantu penyebarluasan agama Islam”.

Embah Gulung Sakti setelah mendapat restu berangkat ke Kuala dan menetaplah di sana. Dengan pesatnya pengembangan syi’ar agama Islam di tanah Jawa, maka sampailah informasi ke Syekh Ahmad Hirowwi, terlebih lagi setelah putra dan putri Padjadjaran yaitu RADEN WALANG SUNGSANG dan RADEN RATU RARANG SANTANG serta RADEN PANAMA RASAS yang bergelar “PRABU SILIWANGI” dan “ NYI MAS SUMBANG LARANG” berguru dan menjadi murid Syekh Idlofi Mahdi. Pada waktu itu usianya masih sangat muda, dibanding dengan Syekh Idlofi Mahdi. Dengan informasi itu hati Syekh Ahmad Hirowwi sangatlah bahagia.

Dengan diketahui istri Syekh Ahmad Hirowwi, dalam waktu yang lama sekitar tahun 1450 M, beliau dikaruniai 5 anak laki-laki dalam kurun waktu 50 tahun. Pada waktu itu putra-putranya sangat rajin dalam memperdalam Agama Islam, setiap kiayi atau Syekh-syekh yang ada di Baghdad di gurui sama putranya, sehingga pada waktu itu Syekh Ahmad Hirowwi usianya sudah sangat tua.

Pada taun 1510 M beliau menyuruh ke 5 putranya itu, untuk berangkat ketanah jawa dengan diberi amanat untuk memperluas syi’ar agama islam. Dalam waktu 35 tahun mereka berkeliling di tanah nusantara termasuk pulau Jawa dan setelah selesai tugasnya mereka selalu berguru dimanapun berada, termasuk kepada wali-wali yang 9 (Wali Songo).

Sekitar tahun 1522 M, sampailah ke Cirebon yang masa itu kepemimpinannya dipimpin oleh Sunan Gunung Jati, setelah ketemu dengan Sunan Gunung Jati kelima putra Syekh Ahmad Hirowwi membicarakan suatu hal yang sangat rahasia dengan Sunan Gunung Jati, setelah selesai pembicaraannya dengan Sunan Gunung Jati, kelima putra Syekh Ahmad Hirowwi diutus oleh Sunan Gunung Jati untuk berangkat ke Padjadjaran sebagai pasukan inti dengan misi memperluas agama islam dengan merengkut rakyat Padjadjaran agar masuk agama islam, dan dijadikannya oleh kelima Syekh Ahmad Hirowwi tersebut dalam mempersempit ruang gerak raja Padjadjaran itu, dan mencari kelemahan Prabu Siliwangi atau Raja Padjadjaran yang pada waktu itu sudah diganti dengan “Raja Kanjeng Prabu Surawisesa”.

Pada waktu itu Sunan Gunung Jati bersama Wali Songo yang lain di antaranya Raden Makdum, Raden Rahmat, Raden Maulana Malik Ibrahim, Raden Saripudin, Raden Syarip Hidayatullah, Raden Ainul Yakin, Raden Umar Sahid, Raden Assahid dan Raden Syekh Jafar Sidik. Kesembilan wali tersebut sepakat memberi gelar kepada para putra Syekh Ahmad Hirowwi dengan gelar “Pandawa Lima”, yang asal mula namanya tersebut dirahasiakan. Nama-nama Pandawa Lima itu diantaranya Raden Patra Kusumah, Raden Arsa Bangsa, Raden Sata Taruna, Raden Patih Dipa Manggala dan Pangeran Bungsu Damiyani.

Pandawa Lima ini di tugaskan agar merekut orang-orang Padjadjaran agar bisa ditaklukan dan masuk agama islam. Dengan perjuangan yang sangat ulet dan tekun, maka Pandawa Lima ini dibantu oleh Wali Songo dan murid-murid pilihan lainnya dalam Agresi Rahasia tersebut maka dalam kurun waktu yang panjangnya sekitar 27 tahun dan perjuangannya itu sangat berhasil, hampir semua keturunan Raja Padjadjaran termasuk dari keluarga putra dan putri raja banyak yang masuk agama islam.

Pada tahun 1549M/969H, Wali Songo beserta Pandawa Lima ini dan anggota-anggota yang sudah sepenanggungan ini sepakat mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan ”Sela Cau” kenapa organisasi itu dinamakan Sela Cau?, karena Pandawa Lima yang anggotanya mempunyani lima yang sangat tinggi, dan Sela Cau di ambil dari ujukan-ujukan musuhnya, yaitu ketika pandawa lima dan anggotanya terseret atau terdesak oleh musuh mereka selalu berlindung di rimbunnya pohon cau sehingga musuh tidak melihat dan, sesuai dengan wilayah tanah pasundan, dari mula dulu sampai sekarang tanah pasundan dipenuhi oleh kebun cau yang ada dimana-mana, dari mulai tanaman rakyat yang pada kebanyakan rakyat itu menanam cau.

Kata cau adalah: kata yang diambil dari bahasa ”Sunda ” yang berarti ”Pohon Pisang” dan akhirnya mereka diberi gelar ”Sunan Sela Cau”. Maka gelar Sunan Sela cau itu abadi, sampai sekarang banyak tokoh atau kiyai yang bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau” makanya dalam setiap hajatan dan tasyakuran orang-orang selalu menghormatinya atau mendoakan atas jasa-jasanya dan mengharapkan Sari’at, kehormatan atau maunat dari bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau” tersebut, yang sangat terkenal kesaktiannya dan kegigihannya dalam memperjuangkan syiar agama islam ini.

Perjuangan Sunan Sela Cau yaitu: menbangun pemerintah sementara dibawah pimpinan Kesultanan Cirebon, yang pada waktu itu sudah dipimpin oleh “Sultan Pangeran Pasarean” yang didampingi Senopati Patahilah, atau yang bergelar Kibagus Pasai. Itu setelah berakhirnya Agresi Militer atau serangan ke kerajaan Galuh. Wafatnya Raden Ariya Kiban dan Raden Cakra Ningkrat (Raja Galuh) atas perintah Sultan Cirebon, pemerintahan di Galuh diperluas lagi sampai Tasikmalaya, Garut dan Sumedang, dalam memperluas jaringan pemerintah.

Pemerintah yang dimotori oleh Sunan Sela Cau telah sampai penyebaran atau perluasannya hingga ke Pamijahan Tasikmalaya. Dengan hasil kesepakatan Sunan Sela Cau menetaplah di wilayah Sunan Sela Cau yang berada di sebelah Selatan Kabupaten Tasikmalaya yaitu Kecamatan Parung Ponteng, Kecamatan Sodinghilir dan Kecamatan Bantar Kalong. Selanjutnya Sunan Sela Cau menetaplah di wilayah itu terutama di wilayah Pamijahan yang merupakan bekas salah satu kediaman Sultan Aulia Allah atau ”Syekh Abdul Qodir Djaelani”. Setelah lama menetap di wilayah Sela Cau dengan perjuangan yang sangat panjang, maka terkenallah Sunan Sela Cau itu sampai ke pelosok Nusantara termasuk Mataram dan sekitarnya.

Maka selama itu Sunan Sela Cau sudah ada pada periode atau jaman kejayaan Wali Songo, sebelum datangnya Syekh Abdul Muhyi ke Pamijahan. Datangnya Syekh Abdul Muhyi ke Pamijahan karena diutus untuk membangun wilayah istimewa Pamijahan. Karena adanya keberhasilan pasukan rahasia yang dipimpin oleh ”Raden Patra Kusumah”, dalam memperluas agama islam termasuk mempersempit kekuasaan Padjadjaran karena pada waktu itu kerajaan Padjdadjaran beragamakan Hindu, setelah Syekh Abdul Muhyi ke Pamijahan dengan berbagai macam rintangan, menurut cerita ketika itu datanglah seorang kakek-kakek bertamu ke Pamijhan yaitu Raden Patra Kusumah dan kebetulan pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi berada di masjidil Harom Mekah sedang melaksanakan shalat dekat Ka’bah tepatnya Batu Hajar Aswad karena kesaktiannya beliau tahu bahwa di rumah Pamijahan ada tamu yaitu pemimpin Sunan Sela Cau, dan dalam benaknya Syekh Abdul Muhyi ingin menguji dan mencoba kesaktiannya Raden Patra Kusumah saat itu.

Selanjutnya Syekh Abdul Muhyi pulang ke rumahnya di Pamijahan dan sesampainya di rumah, Syekh Abdul Muhyi beramah tamah atau menemui Raden Patra Kusumah. Setelah lama bersenda gurau dengan Reden Patra Kusuma, Syekh Abdul Muhyi mengatakan ”maaf sebelum meneruskan obrolan saya ketinggalan tasbih di Ka’bah mau diambil dulu”. Raden Patra Kusumah sudah mengetahui bahwa Syekh Abdul Muhyi menguji dirinya.

Dengan sikap ramah, Raden Patra Kusumah menawarkan jasa kepada Syekh Abdul Muhyi dengan sambil duduk bersila dan tidak merubah anggota badannya berkata ”biar saya yang mengambilkan tasbih tersebut”, selesai mengatakan hal tersebut ternyata tasbih yang ditinggalkan Syekh Abdul Muhyi di Ka’bah sudah berada di depannya, maka pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi berkata ”Maha suci Allah ternyata benar-benar Raden Patra Kusumah itu adalah orang yang Saktimantraguna”.

Pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi sangat muda dibanding dengan Raden Patra Kusumah yang usianya sudah lanjut (senja). Dalam kiprah kejayaan organisasi Sela Cau tersebut, diresmikan pada tahun 969 H, bertepatan dengan tahun 1589 M. Kesimpulan kejayaan organisasi Sunan Sela Cau selama 40 tahun. Menurut cerita usia orang-orang Sunan Sela Cau mencapai rata-rata di atas 200 tahun.

Beberapa hasil Karya Sunan Sela Cau diantaranya :

· Membangun pemerintah dan menbuka lahan pertanian dan pertambangan wilayah Sela Cau.

· Menata pemerintah Galuh Ciamis dan Tasikmalaya, dan menetapkan Raden Semplak Wajah di Galunggung atau yang terkenal “Galuh Agung”.

· Membangun pemerintah baru dan mengangkat Adi Pati Pertama di wilayah huni dan sekitarnya yang menurunkan keturunan Sukapara Ngadaun Ngora.

· Membangun pusat pemerintah di Talag Sumedang setelah Raden Arya Salingsingan dibawa ke Cirebon karena beragamakan Budha.

· Membangun pusat pemerintah Bupati dan Adiptai di Betawi setelah pengusiran Portugis masa Raja Padjadjaran Prabu Surawisesa, dan pada akhirnya tanah Pasundan didominasi agama islam setelah Prabu Surawisesa dan organisasi Sela Cau mengadakan kesepakatan di Bogor Batu Tulis, maka Prabu Surawisesa memperluas agama hindunya ke tanah “Kute Bali” karena secara politik di tanah tatar Pasundan sudah terdesak oleh Agresi Sunan Gunung Jati yang termasuk anggota Sunan Sela Cau. Pasukan inti yang sangat dirahasiakan itu sampai Semarang ini banyak kalangan yang menyembunyikannya karena dulunya pasukan yang Sangat Rahasia.

Beberapa Situs-Situs peninggalan Sela Cau diantaranya :

· Gua Rangga Gading yang berada di desa Cigunung Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya.

· Gua Karaton yang berada di dalam Gunung Karang Lenang Desa Cigunung Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya.

· Kursi Dewan Musyawarah yang berada di Gunung Cipalinter Tasikmalaya.

· Batu Goong yang berada di Gunung Goong Angsana Tasikmalaya.

· Batu Benne yang berada di Gunung Citalahab Tasikmalaya.


sumber http://www.pewarta-indonesia.com/

Masjid H. Bakri Lebih Tua Dari Usia Republik Indonesia | Wisata Tasikmalaya

Siapa sangka Masjid yang berada di Gang Haji Bakri yang beralamat di Jl. K.H. Zaenal Mustofa telah berusia jauh lebih tua dibanding negara Republik Indonesia.

masjid-haji-bakri-tasikmalaya

Bila ada sedang mengunjungi pusat perbelanjaan di Jl. H.Z. Mustofa, Cihideung, tepat disamping Toserba Agung anda akan menemui Gang H. Bakri, 10 m masuk kedalam gang anda akan menemui bangunan Masjid yang selalu ramai oleh warga beribadah maupun sekedar beristirahan di pelatarannya.

Di samping masjid sendiri jalan gang digunakan sebagai tempat parkir kendaraan roda tua, kebanyakan digunakan oleh karyawan toko maupun para warga yang berbelanja, ramainya warga yang ada di Gang H. Bakri di manfaatkan pula oleh para pedagan kaki lima untuk menjajakan dagangannya. 

Masjid H. Bakri sendiri tepat beralamat di Jalan K.H. Z. Mustofa (RT 004/RW 006), kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Di kawasan Sepanjang Jalan Pusat perbelanjaan Kota Tasikmalaya sendiri Masjid ini adalah yang terdekat dapat di akses oleh warga yang tengah beraktivitas.

Dikutip dari berbagai sumber Penanggung-jawab Masjid H. Bakri sekarang adalah sesepuh masyarakat sekitar yaitu Yuyus Sudradjat (60 tahun), berdasarkan penuturannya Masjid H. Bakri dibangun secara permanen pada tahun 1934 dan hingga kini tetap mempertahankan bentuk bangunannya.

Berdasarkan cerita lisan scara turun temurun yang diperoleh Yuyus dari ayah dan kakeknya, bangunan masjid telah ada sejak sebelum tahun 1934 namun masih berupa mushola, pada tahun 1934 bangunan dipermanenkan oleh Haji Bakri.

Saat pertama berdiri suasan Jl. H.Z Mustofa belum ramai menjadi pusat perbelanjaan, tidak banyak bangunan yang berdiri sebelum akhirnya kini di kawasan tersebut menjadi pusat perbelanjaan di Kota Tasikmalaya yang lokasinya strategis karena tidak jauh pula dari pusat pemerintahan sebelumnya.

"Meski kini masjid telah diapit oleh bangunan-bangunan besar, kami mempertahankan masjid ini untuk tetap menjadi tempat ibadah," ujar Yuyus.

Masjid H. Bakri sendiri kini menjadi tempat bagi karyawan ataupun warga luar kota yang tengah berbelanja untuk mendirikan shalat, selain untuk tempat istirahat sejenak setelah beraktifitas. Pengelola sendiri memahami keadaan itu sehingga dibuat pembatas ruang untuk tempat yang dikhususkan bagi mereka yang hendak beristirahat serta bangungan shalat masjid untuk mendirikan ibadah sehingga mereka yang tengah beribadah shalat tidak terganggu oleh mereka yang ada di masjid sedang beristirahat.




Rajapolah Surga Belanja Produk Kerajinan di Tasikmalaya | Wisata Tasikmalaya

Rajapolah sentra kerajinan surga belanja produk hasil industri kreatif di Tasikmalaya.
rajapolah-tasikmalaya

Rajapolah merupakan sebuah nama desa di Tasikmalaya yang sejak zaman sebelum kemerdekaan Republik Indonesia telah terkenal bahkan sampai ke mancanegara sebagai daerah penghasil kerajinan terutama anyaman tikar. 

Desa ini yang jua merupakan nama kecamatan terletak tidak jauh dari Gunung berapi Galunggung, sungai yang mengalir dari Galunggung menuju Rajapolah menyebabkan Rajapolah menjadi daerah yang subur, sebagian besar penduduknya hidup dari sektor pertanian.

Letak lalu lintas transportasi ke Rajapolah dilewati oleh jalur utama jalan raya pantai selatan yang menghubungkan Tasikmalaya dan kota Bandung, selain itu terhubung pula jalur utara menuju Cirebon sehingga letak yang strategis ini memungkinkan berkembangnya kerajinan terutama menjadi kemudahan dalam hal mendatangkan bahan baku dan penjualan produk kerajinan.

Sebagian besar pengrajin merupakan para petani yang mencari penghasilan tambahan dengan membuat kerajinan. Biasanya para petani mengerakan kerajinan anyaman atau kerajinan lainnya pada saat musim kemarau atau musim setelah panen. Ada juga diantara pengrajin yang menjadikan pekerjaan membuat kerajinan sebagai mata pencaharian utama.

Usaha kerajinan di Rajapolah merupakan usaha yang ditekuni secara turun-temurun, pengerjaan yang hanya memerlukan alat sederhana memungkinkan untuk dikerjakan oleh siapapun termasuk ibu-ibu rumah tangga.

Sejarah kerajinan anyaman di Rajapolah bermula pada tahun 1915 saat itu banyak penduduk setempat yang membuat tikar, tikar yang dibuat masih sederhana menggunakan pewarna alam sehingga warna tikar hanya sebata berwarna merah, coklat dan kuning.

Pada perkembangan selanjutnya tahun 1920an kerajinan diRajapolah mendapat bantuan dari bupati Tasikmalaya dengan mengikutsertakan kerajinan anyaman Rajapolah dalam acara Jaareurs atau biasa juga disebut pameran pasar malam yang diselenggarakan di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Melalui pameran itulah kerajinan Rajapolah mulai dikenal keluar daerah bahkan sampai ke luar negeri dan pernah di ekspor ke negeri Belanda.

Pada tahun 1925 ada beberapa orang Prancis yang mendirikan badan usaha yang menampung produk kerajinan Rajapolah dengan harga yang tinggi hal ini membuat banyak penduduk yang menjadi pengrajin, namun badan usaha itu tidak berjalan lama sehingga berdampak terhadap kehidupan pengrajin karena tidak adanya yang menampung produk kerajinan mereka. Dari saat itu produksi kerajinan Rajapolah mengalami penurunan.

Pada tahun 1962 usaha kerajinan mulai kembali menggeliat di Rajapolah setelah adanya seorang pengrajin yang berkreasi membuat kerajinan yang beragam dengan kegunaan yang beragam bagi kebutuhan konsumennya seperti anyaman tas, dompet, kipas, tempat pensil dan lainnya.

Kerajinan Rajapolah mengalami kejayaan pada tahun 1990an, pedagang kerajinan yang menampung produk mempunyai peranan pentig dalam hal ini. Pengrajin tidak mengetahui bidang pemasaran dalam prinsip dagang tentunya para pedagang akan selalu berusaha mengeruk keuntungan lebih besar tanpa memperhatikan faktror lainnya. Secara tidak langsung jika menghitung dari nilai ekonomi pedagang yamg memiliki modal besar jauh lebih diuntungkan dibanding pengrajin. Meski demikian para pedagan yang menampung produk kerajinan Rajapolah tetap diterima karena menjadi solusi dalam hal pemasaran produk

Keunikan Kampung Naga di Tasikmalaya | Wisata Tasikmalaya

Kampung naga terletak di desa neglasari, kecamatan salawu kabupaten Tasikmalaya. Kampung yang memegang luhur adat istiadat warisan leluhur.
Kampung Naga di Tasikmalaya
Kampung Naga di Tasikmalaya
Kampung Naga ini terletak tidak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Tasikmalaya dan Garut, menelusuri sejarah awal berdirinya kampung ini tidaklah mudah. Masyarakat adat Kampung Naga sendiri menyatakan mereka 'pareumeun obor' atau mati lampu mengenai catatan sejarah leluhur mereka.

Sejarah Kampung Naga

Tidak adanya catatan sejarah ini terlepas dari pernah dibakarnya Kampung Naga oleh gerombolan DI/TII pada tahun 1956, hal ini menyebabkan arsip sejarah yang mereka miliki musnah terbakar. Adapun alasan DI/TII membakar Kampung Naga ini karena masyarakat Kampung Naga dianggap telah menjalankan ajaran sesat. Namun ada yang menganggap motif pembakaran karena masyarakat Kampung Naga pada waktu itu setia kepada pemerintahan Presiden Soekarno dan tidak mendukung gerakan DI/TII.
Kampung Naga di Tasikmalaya

Tradisi dan Adat Istiadat Kampung Naga

Salah satu keunikan Kampung Naga adalah mereka tetap kukuh mempertahankan tradisi bentuk bangunan rumah mereka yang dari dulu tidak berubah dan tidak boleh berubah, bangunan di Kampung Naga ini tersusu panjang dengan bahan dari bambu dan kayu serta atap terbuat dari ijuk dan tepus.
kampung-naga-kearifan-lokal-tasikmalaya

Keunikan Kampung Naga lainnya adalah adanya tradisi 'Gusaran' yaitu prosesi masuk kedalam Islam bagi anak perempuan dibawah usia lima tahun karena telah menginjak masa aqil baligh. Dalam prosesi ini Ayam hitam, Beras, Kemenyan, Gunting dan Koin menjadi persyaratan utama.

Keunikan Kampung Naga

Tidak ada listrik yang masuk ke Kampung Naga, adat tidak membenarkan penggunaan listrik di kampung ini, pertimbangan para pemuka adat adalah agar menjaga agar tidak terjadi ketimpangan sosial dalam warga masyarakat Kampung Naga jika menggunakan listrik. Gas elpiji tidak digunakan adat tidak memperkenankan penggunaan dan mereka menolak konversi minyak tanah ke gas elpiji.
kampung-naga-kearifan-tasikmalaya

Sumber kehidupan Kampung Naga bergantung pada alam sekitar mereka dari mulai padi, palawija, ikan di sungai dan pemanfaatan sumber daya alam untuk kerajinan dari bahan bambu, kayu dan rotan. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Kampung Naga yang menarik kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu nilai trasisi dan budaya yang dipertahankan warga Kampung Naga sering menjadi bahan riset dan penelitian para akademisi.
kampung-naga-tasikmalaya

Jika anda tertarik mengunjungi Kampung Naga anda dapat mengunjunginya pada hari apapun, bila arah dari Bandung jalur rute perjalanan melewati Kota Garut dan bila arah dari Tasikmalaya rute yang harus ditempuh melewati Kota Singaparna. Wisata alam ini sangat cocok bagi anda nikmati bersama keluarga maupun rekan-rekan anda untuk menikmati sensani keunikan wisata Kampung Naga.
kampung-naga

Payung Geulis, Si Cantik yang Antik Dari Tasik | Wisata Tasikmalaya

Tasikmalaya telah lama sejak lama dikenal sebagai kota kerajinan tangan salah produk yang terkenal dari Tasikmalaya adalah payung geulis.
payung-geulis-antik-tasikmalaya
Payung geulis Tasikmalaya terbuat dari kayu dan kertas bukan payung biasa yang terbuat dari besi dan plastik , payung geulis tasikmalaya merupakan sebuah ornamen hiasa yang menonjolkan keindahan. Salah satu sentra kerajinan payung geulis terletak di Desa Panyingkiran, Indihiyang. Pada masa keemasan payung geulis hampir semua warga di daerah Panyingkiran memproduksi kerajinan yang telah ada sejak zaman Belanda ini. Kini di Desa Panyingkiran hanya tinggal 2 orang pengusaha industri rumah tangga yang tetap memproduksi payung geulis.
payung-geulis-tasikmalaya

Payung geulis Tasikmalaya memiliki ciri khas warna yang mencolok serta ornamen lukisan yang mempercantik. Motif yang menjadi andalan adalah bunga. Cara pembuatan payung geulis sendiri cukup sederhana mulai dari pembuatan rangka kayu menggunakan benang yang kemudian di pasang kertas, kain atau plastik menggunakan lem. Proses yang paling rumit adalah saat membuat rangka diperlukan keahlian khusus dalam pembuatannya dan belum cukup banyak tenaga kerja yang ahli dalam melakukannya.

payung-geulis
Setelah selesai pembuatan rangka dan pemaangan kertas, payung geulis diberi motif untuk mempercantik terdapat dua motif yang dipakai geometris dan non geometris. Ciri dari lukisan payung geulis yang bermotif geometris adalah menonjolkan ornamen lukisan berbentuk bangun seperti garis lurus, lengkung dan patah sedangkan motif non geometris di inspirasi dari alam seperti lukisan manusia, hewan dan tanaman. Sering perkembangan dan permintaan pasar saat ini motif lukisa mulai dipadukan dan dikembangkan dengan lukisan cat minyak, batik atau bordir. Di zaman Belanda payung geulis digunakan kaum bangsawan untuk melindungi diri dari panas dan hujan, kini payung geulis Tasikmalaya hanya digunakan saat upacara adat atau dijadikan sebagai hiasan.
payung
Jika tertarik pada kerajinan yang satu ini anda dapat datang langsung ke sentra kerajinan payung geulis di daerah Indihiyang sekitar 5 km dari pusat kota Tasikmalaya untuk melihat langsung bagaimana kerajinan ini dibuat dan dapat memilih langsung berbagai motif yang ada sesuai dengan selera keindahan kita.

Top